Jalan-jalan ke Palembang

Akhir Maret 2010, ini aku berkesempatan untuk jalan2 bersama keluarga ke Palembang.
Tidak banyak yang dapat dilihat disana, ada Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, Mesjid Agung ada juga wisata
alam seperti Hutan Wisata Punti Kayu (kelewatan pada perjalanan ke Bandara Sutan Mahmud Badaruddin II), tapi
driver yang membawaku tidak merekomendasi dan kelihatannya tidak terurus.
Jembatan Ampera diwaktu malam memang indah sekali, apalagi kita melihat dari Restoran River Side, sambil makan
melihat bayangan jembatan di air.  oh ya.. setiap malam minggu dari restoran tersebut ada kapal yang berlayar
mengitari Sungai Musi, hanya sayang (mungkin peminatnya sepi) jadwalnya hanya sekali. Ketika aku sampai sana,
kapal sudah berlayar.

Tapi untuk urusan makan lain lagi, jangan tanya mengenai pempek. Sepanjang jalan didalam kota Palembang banyak
sekali rumah makan pempek Palembang. Pertama mendarat di kota Palembang, kami diajak makan di Sri Melayu,
sebuah rumah makan di tengah kota dengan suasana yang asri, makan pindang patin juga ikan seluang disaji bak
makanan padang. Menurut pemiliknya katanya di Jakarta juga ada. Tapi menurutku harga cukup mahal.

Untuk pempek, beberapa yang mempunyai banyak cabang yaitu Candy, Pak Raden dan, Vico.
Karena Pak Raden ada di Jakarta, maka kucoba pempek Candy, Vico juga Saga (atau Sudi Mampir).
Di Palembang dijual pempek kecil yang berisi lenggang, kapal selam dan yang bulat2 (lupa). Pada ketiga tempat
tersebut secara rasa mirip2, akan tetapi jangan dibandingkan dengan di Jakarta (umumnya) karena di Palembang
kadar ikannya banyak sehingga mirip baso ikan gitu. Dan cuko-nya rata2 pedas buat ukuranku yang tidak menyukai
pedas.  Selain itu menu lain ada pempek lenggang yang menggunakan telor dan model menggunakan kuah juga tekwan. Harga untuk yang pempek kecil beragam dari Rp. 2000 sd 3000, Vico termurah. Mereka sdh terbiasa untuk dibeli sebagai oleh2, siap dengan dus. oh ya ditempat Vico ini juga ada dijual es Kacang merah.

Makanan khas lain Palembang adalah pindang patin, istriku mencoba di resto Pindang Patin Rawas di jalan
Angkatan 45, katanya maknyuss.

Pindang Musi Rawas, jl. angkatan 45

Selain itu adalah makan khas lain adalah mie celor, sebuah mie dengan potongan
udang kecil dan kuah kental, aku mencobanya di Novotel Palembang. Rasanya mantap, tapi tempat jualan yang
enak, konon katanya di sebuah pasar tapi tidak sempat mampir.

Mie Celor

Makanan lain yang juga banyak adalah Martabak HAR, ini sebuah martabak (haji abdul Rojak) katanya yang asli
disekitar Mesjid Agung Palembang. Yang pasti ada gambar Pak Haji-nya. Martabak ini polos aja tidak ada
dagingnya, dan dimakan menggunakan kuah kari. Mantap juga..

Untuk yang menyukai tempat yang romantis, maka makan malam di River Side (dekat Benteng Kuto Besak) dengan
pemandangan jembatan Ampera yang dihiasi lampu cukup menawan.

Akhirnya acara belanja khas Palembang, yaitu kain songket. Harganya mahal jutaan rupiah tergantung kwalitas.
Iparku mengajak ke sebuah pasar di depan PIM (Palembang Indah Mall). Disitu cukup murah, aku membeli kemeja
dari serat kayu motif Palembang seharga Rp. 160.000 ,-

Ada hal lain yang cukup menarik perhatianku, adalah tidak ada Alfa Mart atau Indo Mart di jalan2 dalam kota
yang kulalui. Mungkin memang tidak diperbolehkan, akan tetapi menjadi sulit untuk berbelanja kebutuhan2 kecil,
karena warung juga jarang.

Hal lain yang menyenangkan, adalah selama disana sebuah mobil camry setia menemaniku  he he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s